Bagian Satu

Tawa dalam Tekanan, Doa dalam Kesunyian

Aku adalah sebuah paradoks. Di balik lelucon dan tawa yang sering kubagi, aku membawa sebuah dunia yang enggan bersentuhan dengan riuh rendahnya keramaian. Bagiku, kesunyian adalah perlindungan, tempat di mana aku tak perlu memakai topeng untuk sekadar terlihat baik-baik saja.

Bertahun-tahun lamanya, aku hidup dalam himpitan tekanan yang tak kasat mata. Sejak jemari kecilku mulai mengenal dunia hingga hari ini, garis nasib tak pernah memberiku kemewahan. Aku tidak lahir dari perak dan emas; aku ditempa oleh kerasnya batu karang dan dinginnya malam yang panjang.

Mandiri bukan lagi sebuah pilihan bagiku, melainkan napas hidup. Aku adalah pengembara yang menolak untuk menengadahkan tangan kepada sesama manusia. Di titik paling rendah sekalipun, aku memilih untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri. Karena aku tahu, hanya ada satu tempat bagiku untuk bersimpuh dan memohon bantuan—hanya kepada Allah, Sang Pemilik segala skenario.