Bagian Empat

Ekskavasi Jiwa

Dunia seolah membelah dadaku dengan paksa, mencoba mengganti isinya dengan narasi yang bukan milikku. Mereka menghisap pikiran-pikiranku, mencoba menghapus setiap memori yang tersisa, dan mengunci mulutku dalam kebisuan yang panjang. Namun, di tengah kehampaan itu, aku justru lahir kembali—menjadi sosok yang tanpa tanding, berdiri di atas puing-puing kepedihan yang kini menjadi pondasi kekuatanku.

Kau mungkin membenciku karena cahaya baru yang kini menyala di dalam dadaku, sebuah api yang tak mampu kau padamkan meski kau coba terus menerus. Biarlah kebencian itu menjadi saksi bahwa aku tidak lagi bisa kau kendalikan. Aku telah membuang segala ketergantungan pada sandaran semu manusia.

Di dunia ini, hingga ke ujung masa depan yang masih menjadi rahasia, aku tidak akan pernah lagi mengandalkan siapa pun. Aku hanya memegang erat dua hal dalam genggamanku: kekuatan diriku sendiri dan takdir suci yang telah digariskan oleh Tuhanku, Allah. Di bawah naungan-Nya, aku tak lagi gentar meski harus melangkah sendirian dalam kegelapan.