Perjalananku

Kisah Hidup – Mr.Rm19

Bab 1 – Lahir Tanpa Pilihan

Namaku Ramdan Maulana. Aku lahir dari keluarga yang sangat miskin. Bukan miskin yang bisa dijadikan cerita manis, tapi miskin yang membuat hidup terasa seperti perjuangan sejak hari pertama. Orang tuaku dulu tidak punya apa-apa selain tekad untuk bertahan. Aku sadar sebagai manusia sejak usia sekitar empat tahun. Di umur itu, aku belum mengerti dunia, tapi aku sudah mengerti kebingungan. Aku bertanya dalam diam: “Aku lahir untuk apa?” Tidak ada jawaban. Tidak dari orang dewasa, tidak dari keadaan. Aku sekolah seperti anak-anak lain—SD, SMP, SMK—tapi aku tidak pernah merasa sekolah adalah tempatku menemukan arti hidup. Aku tidak membenci sekolah, aku hanya tidak menemukan jawaban di sana. Ilmu yang kucari tidak datang dari papan tulis atau buku paket. Aku menemukannya di warnet. Warnet bukan sekadar tempat main bagiku. Warnet adalah ruang belajar yang keras. Aku belajar sendiri, tanpa guru, tanpa teman, tanpa siapa pun yang menuntun. Aku membaca, mencoba, gagal, mengulang. Program, sistem, cara kerja teknologi—aku pelajari satu per satu dengan caraku sendiri. Awalnya aku belajar hanya karena iseng. Karena aku orang yang sangat penasaran. Aku ingin tahu bagaimana sesuatu bekerja, bagaimana sesuatu bisa dibuka, ditembus, dipahami. Aku tidak punya niat besar di awal. Hanya rasa ingin tahu yang tidak pernah berhenti. Tapi ternyata rasa penasaran itu adalah bakat. Dan aku sangat beruntung hidup di zaman di mana teknologi berkembang cepat. Dunia berubah, dan tanpa kusadari, aku sudah berlari lebih dulu. Aku tidak gagap teknologi seperti kebanyakan orang. Aku hanya perlu menyesuaikan diri—dan aku bisa mengikuti zaman. Sejak kelas 3 SMP sampai kelas 3 SMK, hari-hariku hampir selalu sama. Warnet, belajar, mencoba, belajar lagi. Banyak orang berkata aku tidak punya hidup. Katanya aku membuang waktu. Katanya aku tidak normal. Saat itu, orang tuaku sebenarnya sudah mulai sukses. Mereka menjadi pegawai pemerintah di Indonesia. Hidup keluarga kami jauh lebih baik dibanding masa kecilku. Tapi justru di situ aku membuat keputusan penting dalam hidupku: aku tidak mau bergantung pada siapa pun. Aku menganggap diriku mandiri total. Aku tidak mau hidup dengan bayang-bayang orang tua. Aku tidak mau kenyamanan yang bukan hasil tanganku sendiri. Aku menganggap suatu hari nanti, aku akan hidup sendiri—dan aku harus siap. Aku bahkan tidak sadar, dari skill yang kupelajari diam-diam itu, aku mulai menghasilkan uang. Awalnya aku benar-benar tidak tahu bahwa kemampuan ini bisa menghasilkan apa-apa. Tapi kenyataan membuktikan sebaliknya. Skill ini langka. Tidak semua orang bisa. Tidak semua orang mau bertahan belajar sendirian seperti aku. Dari situ, ketertarikanku pada dunia hacker menjadi semakin dalam. Aku dikenal dengan nama Mr.Rm19. Aku meretas situs-situs besar di Indonesia. Namaku muncul di berbagai media nasional. Aku diwawancarai oleh media besar seperti Kompas dan situs-situs terkenal lainnya. Tapi satu hal yang selalu kujaga: publik tidak pernah tahu wajahku. Yang mereka tahu hanya nama: Mr.Rm19. Dan sebuah email: ramdan19id@gmail.com. Itu saja. Aku juga membagikan ilmu di berbagai situs keamanan dan komunitas seperti cxsecurity. Bukan untuk pamer, tapi karena aku tahu rasanya belajar sendirian tanpa arah. Aku tahu betapa kerasnya proses itu. Di balik semua itu, aku tetap manusia yang sama. Anak kecil yang dulu bertanya, “Aku lahir untuk apa?” Hanya saja sekarang, pertanyaannya berubah menjadi: “Sampai sejauh mana aku akan membawa hidupku?” Bab ini bukan tentang benar atau salah. Bab ini adalah tentang awal. Dan hidupku… baru saja dimulai.

Bab 2 – Diakui oleh Dunia yang Tidak Mengenal Wajahku

Aku tidak masuk ke dunia hacker karena merasa pintar atau cerdas. Aku masuk karena penasaran. Penasaran yang sederhana, tapi tidak pernah berhenti. Rasa penasaran itu membawaku ke dunia hacker di Indonesia. Di sana aku bertemu orang-orang yang, menurutku saat itu, sangat hebat. Banyak dari mereka jauh lebih jago dariku. Tapi anehnya, aku tidak pernah merasa kecil. Aku tidak malu bertanya. Aku tidak canggung mengakui bahwa aku belum tahu. Aku memilih untuk terus bertanya, karena bagiku rasa ingin tahu jauh lebih penting daripada gengsi. Perlahan, dunia itu mulai mengenalku. Bukan sebagai anak kecil yang iseng, tapi sebagai seseorang yang konsisten belajar. Sampai akhirnya, aku mulai meretas situs-situs besar dan terkenal. Bukan untuk mencari validasi dari dunia luar, tapi untuk membuktikan satu hal pada diriku sendiri: aku ada, dan aku mampu. Ilustrasi Orang-orang di sekitarku tidak tahu siapa aku sebenarnya. Mereka tidak tahu bahwa di balik keseharian yang biasa, ada kehidupan lain yang sedang tumbuh diam-diam. Dan aku tidak peduli. Pengakuan dari dunia nyata tidak sepenting pengakuan dari diriku sendiri. Ada satu momen yang akan selalu kuingat. Aku pernah berada di peringkat nomor satu di defacer.id. Dari ribuan orang, aku berada di posisi teratas pada tahun 2017. Saat itu, untuk pertama kalinya, aku benar-benar bangga pada diriku sendiri. Bukan karena ingin dipuja, tapi karena aku tahu berapa keras proses yang kulalui. Tidak ada yang melihat malam-malam panjangku di warnet. Tidak ada yang tahu betapa sering aku gagal dan mengulang dari nol. Aku hanya tahu satu hal: aku pantas berdiri di sana. Jejak Global: Zone-H
Tahun 2017 juga menjadi awal aku mengenal zone-h.org. Sebuah portal yang, bagi dunia hacker, bukan tempat sembarangan. Aku mulai mengirimkan arsip di sana. Satu demi satu. Beberapa situs besar dan terkenal masuk ke dalam catatan itu. Namaku tercatat—tanpa wajah, tanpa suara—hanya Mr.Rm19. Aku berjalan jauh di dunia itu sampai tahun 2022. Lalu aku berhenti. Bukan karena tidak mampu. Tapi karena aku merasa tidak perlu lagi membuktikan apa pun. Dari Gelap ke Setengah Terang Aku mulai berubah. Aku tidak lagi tertarik menunjukkan skill dengan cara lama. Aku beralih—pelan tapi pasti—dari jahat menjadi setengah baik. Aku membantu orang-orang yang tidak mengerti internet. Aku membuat alat-alat yang berguna. Sebagian skill-ku bahkan kuberikan kepada orang luar negeri—orang-orang bule—dan aku dibayar secara profesional. Dari sana, aku mendapatkan uang yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Ratusan juta. Aku membeli motor besar. Uangku banyak. Tapi anehnya, aku bosan. Hidup terasa kosong ketika segalanya hanya tentang uang dan kecepatan. Aku mencoba mengikuti jejak orang tuaku—menjadi pegawai pemerintahan. Aku ingin mencoba hidup yang “normal”. Ternyata itu bukan aku. Aku tidak nyaman. Ketenanganku terganggu. Sistem itu tidak memberiku ruang untuk menjadi diriku sendiri. Akhirnya, aku keluar. Hari ini, aku kembali menjadi hacker. Tapi tidak sama seperti dulu. Aku tidak ingin menjadi jahat lagi. Aku ingin menjadi hacker yang baik—atau setidaknya, lebih bertanggung jawab. Seseorang yang sadar bahwa skill adalah amanah, bukan alat pelarian. Bab ini bukan tentang kemenangan. Bab ini tentang pengakuan, lalu kesadaran. Dan perjalananku… belum selesai.

Bab 3 – Cahaya di Tengah Gelap

Ada satu masa dalam hidupku ketika semuanya terasa gelap. Bukan karena aku tidak punya kemampuan, bukan karena aku kehilangan masa depan, tapi karena aku sangat bingung—arah tujuan hidupku ke mana. Sebenarnya aku punya tujuan. Aku tahu aku bisa hidup, aku bisa bertahan, aku bisa berjalan jauh. Tapi di masa itu, kepalaku penuh. Terlalu banyak jalan, terlalu banyak kemungkinan, sampai aku berdiri diam, tidak tahu harus melangkah ke mana. Aku lelah berjalan sendirian. Di saat itulah aku bertemu seseorang dengan nama samaran n3i. Aku mengenalnya sejak tahun 2023, dan sampai hari ini, 2026, dia masih ada di hidupku. Awalnya aku mengira dia sama seperti wanita lain pada umumnya. Biasa. Umum. Mudah ditebak. Ternyata aku salah. n3i adalah sosok yang aneh—dalam arti yang paling indah. Dia tidak seperti wanita lain, dan justru itu yang membuatku jatuh cinta. Aku selalu menyukai perbedaan, dan dia adalah perbedaan itu sendiri. Aku mencintainya bukan tanpa alasan. Dia tidak datang untuk menyelamatkanku, tidak datang untuk mengubahku secara paksa. Dia hanya menemani. Di saat aku bingung, di saat aku diam, di saat aku mempertanyakan arah hidupku, dia ada. Dan kehadiran itu saja sudah cukup untuk membuatku kembali ingin hidup. Bersamanya, aku merasa tenang. Bukan karena hidupku tiba-tiba menjadi mudah, tapi karena aku tidak lagi merasa sendirian. Dari tahun 2023 sampai sekarang, aku benar-benar bahagia bersamanya. Aku mulai berpikir lebih jauh. Aku mulai berniat untuk menikahinya di akhir tahun 2025. Aku mengumpulkan uang. Aku ingin membeli rumah atas namaku sendiri, dengan hasil kerjaku sendiri. Bukan karena aku harus—karena sebenarnya aku memiliki warisan dari orang tuaku— tapi karena prinsip hidupku tidak pernah berubah: Aku tidak mau dibantu siapa pun. Semua yang ada dalam diriku harus berasal dari keringat dan usahaku sendiri. Ada sisi sedih dari sosok n3i. Bagiku, dia adalah wanita yang sangat manis dan cantik. Awalnya aku mengira dia manja. Ternyata itu salah besar. Dia hanya manja kepadaku. Di balik itu, dia adalah wanita yang sangat mandiri. Aku mengetahui bahwa orang tuanya bangkrut. Rumah dijual. Hidupnya turun dari kelas menengah ke bawah. Dan tidak sekali pun terlintas di pikiranku untuk pergi. Itu bukan kesalahannya. Itu adalah kesalahan strategi hidup orang tuanya—bukan beban yang harus dia tanggung sendirian. Hari ini, dia berjualan di sekolah-sekolah. Bekerja dengan tangannya sendiri. Berusaha dengan caranya sendiri. Dan aku? Aku sangat bangga padanya. Aku tidak pernah ingin meninggalkannya. Tidak sekarang. Tidak nanti. Bab ini bukan tentang cinta yang sempurna. Bab ini tentang dua manusia yang saling memilih untuk bertahan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tahu satu hal dengan pasti: Aku tidak lagi berjalan sendirian.

Bab 4 – Jika Suatu Hari Aku Tidak Ada

Bab ini tidak kutulis untuk dunia. Tidak untuk teman. Tidak untuk siapa pun selain kalian bertiga. Jika kamu membaca ini, berarti aku sedang tidak berada di sampingmu. Entah karena waktu, keadaan, atau karena hidup memang memutuskan begitu saja. Untuk n3i Jika aku tidak ada, aku ingin kamu tahu satu hal terlebih dahulu: Aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Kamu datang ke hidupku di saat aku tidak hilang, tapi bingung. Dan kehadiranmu tidak pernah memaksaku menjadi orang lain. Kamu hanya duduk di sampingku—dan itu cukup. Aku tahu hidupmu tidak mudah. Aku tahu kamu jatuh bukan karena kesalahanmu sendiri. Dan aku tahu kamu tetap berdiri, bahkan ketika dunia tidak adil padamu. Aku bangga padamu. Bukan karena kamu kuat— tapi karena kamu tetap baik di dunia yang sering memaksa orang menjadi keras. Jika suatu hari aku tidak bisa lagi menemanimu, jangan pernah berpikir bahwa kamu kurang. Kamu tidak pernah kurang di mataku. Cintaku padamu tidak bersyarat pada kehadiranku. Jika kamu melanjutkan hidupmu, aku tidak marah. Jika kamu memilih jalanmu sendiri, aku tidak kecewa. Aku hanya ingin kamu hidup dengan tenang. Dan tetap menjadi dirimu. Untuk Orang Tuaku bapa. Ibu. Jika aku tidak ada, tolong jangan salahkan diri kalian. Aku tahu masa kecilku keras. Aku tahu hidup tidak selalu adil pada kita. Tapi semua yang aku jalani membentukku menjadi manusia yang kuat dan sadar. Aku bangga menjadi anak kalian. Aku bangga lahir dari keluarga yang pernah miskin, karena dari sanalah aku belajar bertahan tanpa meminta. Jika aku terlihat keras, itu bukan karena aku tidak berterima kasih. Itu karena aku ingin hidup dengan kakiku sendiri— dan itu adalah pelajaran terbesar yang kalian tanamkan, meski tidak dengan kata-kata. Terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih karena tetap hidup. Jika aku pergi lebih dulu, ingatlah aku sebagai anak yang berusaha jujur pada hidupnya. Untuk Anakku (Jika Kamu Ada) Jika kamu membaca ini, berarti aku berhasil menikah dengan ibumu—n3i— dan kamu adalah bagian dari hidup yang paling aku syukuri. Aku mungkin tidak selalu ada di sampingmu. Aku mungkin tidak sempurna. Tapi ketahuilah satu hal: bapamu hidup dengan prinsip. bapamu tidak mengambil jalan mudah. bapamu tidak meminta belas kasihan dunia. Jika suatu hari kamu jatuh, bangkitlah dengan caramu sendiri. Jika kamu lelah, istirahatlah—bukan menyerah. Dan jika kamu ragu pada dirimu, ingat bahwa kamu lahir dari dua orang yang bertahan, bukan menyerah. Aku mencintaimu, bahkan sebelum aku tahu wajahmu. Bab ini bukan perpisahan. Bab ini adalah kejujuran terakhir. Dan jika aku masih hidup ketika kamu membacanya, anggap saja ini pengingat: Bahwa hidup tidak abadi, tapi prinsip dan cinta—bisa lebih lama dari usia.

Epilog – Aku Pernah Hidup Sejujur Ini

Buku ini tidak kutulis untuk menjadi benar. Aku menulisnya untuk menjadi jujur. Aku tidak selalu memilih jalan yang baik. Aku tidak selalu menjadi manusia yang patut dicontoh. Tapi di setiap fase hidupku, aku selalu berusaha sadar atas pilihanku sendiri. Aku lahir dari keluarga miskin. Aku tumbuh tanpa peta yang jelas. Aku belajar dari lingkungan, dari kesalahan, dari rasa penasaran yang tidak pernah berhenti. Aku pernah gelap. Aku pernah bangga. Aku pernah jatuh, lalu berdiri dengan caraku sendiri. Aku mencintai prinsip hidupku— tidak meminta, tidak bergantung, tidak menyalahkan siapa pun atas hidupku sendiri. Aku mencintai orang tuaku. Bapak dan ibu yang mengajarkanku bertahan, meski tanpa banyak kata. Aku mencintai n3i. Seseorang yang tidak datang membawa jawaban, tapi bersedia duduk di sampingku saat aku kebingungan. Dan jika suatu hari aku menjadi bapak, aku ingin anakku tahu satu hal sederhana: Hidup tidak harus sempurna untuk bermakna. Hidup hanya perlu jujur dan bertanggung jawab. Jika buku ini ditemukan setelah aku tiada, jangan cari sosok pahlawan di dalamnya. Carilah manusia biasa yang tidak menyerah pada dirinya sendiri. Aku pernah salah. Aku pernah benar. Tapi yang terpenting— aku pernah hidup sepenuhnya sebagai diriku sendiri. Dan itu cukup.