Sebuah perjalanan yang tidak pernah direncanakan
Tanggal 9 Oktober 2023 menjadi hari yang tidak pernah aku rencanakan, namun justru mengubah arah perasaanku. Pada hari itu, aku sama sekali tidak berniat mencari pasangan. Aku hanya menjalani hari seperti biasa, tanpa ekspektasi, tanpa tujuan asmara.
Aku bertemu dengannya melalui sebuah aplikasi bernama Telegram, di dalam sebuah grup info lowongan pekerjaan. Lucunya, aku sendiri tidak sedang mencari pekerjaan. Aku hanya singgah, membaca, lalu tanpa sengaja menemukan sosoknya ketika ia sedang menanyakan sebuah lowongan.
Awalnya aku mengira ia sama seperti wanita lain yang pernah kutemui. Biasa saja. Tidak istimewa. Namun aku salah besar. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menyadari bahwa ia sangat berbeda, bahkan terasa aneh bagiku—dalam arti yang tidak bisa aku jelaskan.
Aku belum pernah bertemu sosok seperti dirinya sepanjang hidupku. Ada sesuatu dari caranya berbicara, bersikap, dan hadir yang membuatku penasaran tanpa alasan yang jelas.
Dengan keberanian yang entah datang dari mana, aku mengajaknya bertemu di suatu tempat sekadar untuk berbincang dan saling mengenal. Pertemuan itu kemudian berlanjut menjadi ajakan menonton film baru di bioskop tahun itu.
Sejujurnya, aku sangat canggung. Sudah lama sekali aku tidak bertemu, apalagi dekat, dengan seorang wanita. Rasa gugup itu semakin menjadi ketika aku melihat penampilannya. Ia mengenakan pakaian yang sangat berbeda dari wanita-wanita pada umumnya— hal yang terasa aneh, namun justru melekat di ingatanku.
Dalam suasana canggung, aku sempat bercanda dengan memanggilnya “Woody Woodpecker”. Bagiku itu hanya candaan ringan, namun aku salah. Ia terlihat marah dan kesal. Saat itulah aku menyadari bahwa ia sosok yang sensitif, dan aku telah ceroboh dengan kata-kataku.
Film pun dimulai. Kami menontonnya seperti orang-orang pada umumnya, duduk berdampingan dalam diam, namun pikiranku penuh dengan kegelisahan yang tak terucap.
Setelah film selesai, kebingunganku muncul. Aku tidak tahu harus membawanya ke mana. Aku jarang keluar rumah, dan sudah terlalu lama tidak menjalin kedekatan seperti ini.
Malam itu, aku mengajaknya makan ke sebuah tempat yang memiliki arti tersendiri bagiku— Sempur, Kota Bogor. Sebuah tempat makan sederhana, dengan ibu-ibu penjual yang dulu pernah aku kenal.
Selesai makan, aku mengantarkannya pulang. Namun satu kejadian kecil terjadi di perjalanan. Kami kehujanan bersama di lampu merah Jalan Baru.
Di bawah hujan itu, aku kehabisan kata. Tak tahu harus membicarakan apa. Hingga akhirnya, dengan gugup, aku mengajaknya berfoto bersama. Awalnya ia tampak canggung.
Dan dari situlah, cerita ini baru saja dimulai.